
Dok : Studio Plesungan
Cuaca yang tak menentu di kota Solo rupanya tidak berlaku pada hari itu. Langit Solo memang tidak secerah biasanya, namun setidaknya hujan tidak mengguyur bertepatan dengan acara On Stage ke 14 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan pada tanggal 3 Maret 2023 yang lalu.
Meski bangku di sayap tengah telah terisi penuh, namun dengan lenggangnya bangku di sayap kanan dan kiri mampu menghantarkan kami menyaksikan karya The Convincers Of Heaven Collapse dengan khidmat. Karya ini merupakan hasil kerjasama antara komunitas Indonesia Performance Syndicate dengan komunitas Teater Bumikalamtara Jakarta. Disutradarai serta diperankan oleh Wendy HS dan Joe Mirshal, seorang aktor berdarah Minang yang menerapkan Total Body Performance Method sebagai metode penggarapan karyanya serta mengadaptasi cerpen Robohnya Surau Kami karangan AA Navis dan diterbitkan pada tahun 70-an.
Layaknya pertunjukan pada umumnya, gelap menjadi pertanda bahwa pertunjukan belum dimulai. Tak lama berselang, lampu yang remang-remang memperlihatkan dua pria paruh baya dengan kaos dan celana galembongnya. Satu diantaranya sedang berdiam diri di bawah sususan besi yang dibentuk menyerupai surau, sedangkan yang lain seperti tengah meraba dan sesekali menghardik angin dengan tatanan dua koper dibelakangnya. Sementara itu, tumpukan tisu ditata menjulang membentuk piramida di tengah pentas. Wujudnya yang menggunung, mengingatkan saya pada pernyataan Mangunwijaya dalam bukunya yang berjudul Wastucitra. Beberapa halaman dalam buku ini menjelaskan tentang sejarah tempat ibadah yang identik dengan bentuk mengerucut keatas, terilhami oleh wujud gunung yang pada masa lampau dianggap menjadi bangunan digdaya sebagai representasi wujud Sang Pencipta. Tak ayal, hampir seluruh tempat ibadah di belahan dunia wujudnya menyerupai ciptaan yang digdaya itu pula.
Kemudian keduanya mulai memangkas jarak dan membentuk gestur beribadah di bawah surau dengan dinamika yang acak dan berdendang dengan ciri khas Minang. “Dokar, losmen, andong, motel esek-esek, klinik kelamin, pesarean.” ujar Joe Mirshal seraya memikul dua koper yang terdengar berisi benda keras namun ringan di dalamnya. “Hotel, pijat plus-plus, ATM, rumah sakit. Apa kabar orang tua?” lanjutnya. Keduanya mulai menjauh dari surau buatan itu, kemudian memandang dari kejauhan sembari berteriak hingga urat di lehernya terlihat “Orang tua bunuh diri!”.
Perlahan mereka berjalan dengan pandangan nanar dan kedua tangan yang menengadah. Keduanya berjalan tanpa menghiraukan apa yang ada di hadapannya. Tisu-tisu mulai berserakan, sementara mereka merintih seolah tak percaya akan kematian orangtua yang mereka maksudkan. Rintihan itu kian mewujud tangis, hingga akhirnya mereka bersama-sama merobohkan surau hingga terdengar suara-suara nyaring memecah suasana sendu sekaligus mencekam.
Besi-besi itu dibongkar lalu disusun kembali, kali ini dibentuk menyerupai keranda mayat. Tongkat besi yang tadinya digunakan untuk menyangga surau, kini digunakan untuk menusuk tisu yang sesekali dibuang. Keranda yang ditempatkan di tengah pentas itu mulai dibalut dengan lembaran tisu. Mereka tak sungguh-sungguh membalutnya dengan rapih, namun justru dengan balutan yang berantakan mampu memperjelas narasi dalam cerpen Robohnya Surau Kami.
Pola roboh dan bangun kembali diperlihatkan ketika keduanya mengangkut susunan besi tersebut dan saling membentuk tangga. Mereka mulai melipir menjauh dari tangga dan duduk bersila sambil berbisik “siapa?”, berulang kali diucapkan hingga artikulasinya mulai tak jelas, terkadang terdengar seperti ‘sapa’ atau bahkan ‘capa’. Bisikan hingga teriakan yang saling bersahutan kian membangunkan mereka hingga melompat dengan pukulan galembong yang keras. Bebunyian galembong menyambut perombakan besi yang kini dirubah menjadi salib dengan satu orang yang melentangkan tangannya. Ya, gestur yang cukup ikonik seperti Yesus sewaktu menerima hukuman salib.
“Surga hadir akibat kalkulasi kebaikan ketika hidup di dunia.” Bagi saya, kalimat ini dalam maknanya. Buktinya, saya bahkan mampu merekamnya dengan jelas setelah selang satu purnama karya ini dipentaskan. Karya ini ditutup dengan cahaya yang memerah, sedangkan mereka berulang kali mengucapkan ‘kerja’ dan ‘ibadah’ sembari bergerak patah-patah seperti robot yang hanya mampu bekerja tanpa mempertimbangkan empati dan simpatinya. Bukankah sia-sia jika demikian keduanya tak seimbang, timpang dan berat sebelah?
Sesi bincang seniman dibuka seusai karya ini disajikan, didampingi oleh Halim HD sebagai penanggapnya. Pengalaman Halim HD sebagai networker kebudayaan dan berkesenian di koridor teater, turut meluaskan pandangan kami bahwa pada masa lampau setelah cerpen Robohnya Surau Kami ini diterbitkan, warga Indonesia ‘geger’ selama kurang lebih satu dekade lantaran cerpen ini mengandung pesan yang kontroversial mengatasnamakan religiusitas. Selain itu, ia mengapresiasi sekaligus mempertanyakan bagaimana Wendy HS dan Joe Mirshal mengelola serta menerapkan Total Body Performance Method dalam menggali khasanah gerak tubuh mereka.
Sebelum menanggapi pertanyaan mengenai metode yang mereka terapkan, Wendy menjelaskan bahwa pertemuan ini diinisiasi oleh ketidaksengajaan sewaktu berproses dalam suatu produksi film. Seiring dengan berlangsungnya proses tersebut, mereka mengaku memiliki kesamaan dalam memandang konteks sosio-politik dalam kebudayaan Minang dan tergugah untuk meng-universal-kan realitas di Minangkabau. Melalui pandangan tersebut, Wendy dan Joe sepakat untuk meleburkan tari (dancing), aksi (acting), dan musik (musicing) untuk meramu formula penciptaan karya yang kemudian mereka sematkan dengan istilah Total Body Performance Method yang berkiblat pada tradisi di Minang, salah satunya dengan menggunakan ragam silek.
Mendengar tanggapan tersebut, Halim mencoba melihat kembali persoalan sosio-kultural dari pandangan yang lebih luas dengan membandingkan praktik dan realitas yang terjadi di berbagai wilayah lain. Misalnya di Makassar dengan Pakarena-nya yang telah meleburkan batasan antara gerak dan musik. Lalu ia menyimpulkan, bahwasana seseorang mampu menari sebab kumpulan suara yang pernah didengar dalam tubuhnya. Bersinggungan dengan pernyataan seorang musisi yakni Karina Utomo dan Anjeline de Dios bahwa suara memiliki bentuk, sama halnya dengan tubuh, oleh karenanya suara juga memiliki tubuh dan dapat dibentuk.
Sebagai sesama aktor dan teaterawan, Jarot B Darsono. dan Andi SW beranggapan bahwa karya ini terlalu rapih dan runtut. Joe pun angkat bicara mengenai alasan keruntutan karya mereka yang berpijak pada perkembangan teater tubuh yang mengandalkan kata sebagai unsur bunyi. Sehingga baginya, dengan mengalihfungsikan teks tersebut ke dalam wujud yang lain merupakan bagian dari peleburan yang dapat ditafsirkan secara bebas. Berbeda halnya dengan penanggap lain yakni Indah, yang menanyakan perihal sejauh mana pembacaan realitas masa lalu yang berjarak dengan kehidupan masa kini. Di sisi lain, Daryono Darmorejono dengan pandangan kepenariannya yang merasa terbentur dengan suara keras dari logam dan kelembutan tisu yang barangkali menjadi paradoks kehidupan masa kini yang serba kontras.
Menyahut pernyataan Indah, Joe sedikit memberikan gambaran tradisi rumah di Minangkabau yang selalu menyisakan ruang ibadah atau surau yang hanya bisa disinggahi oleh laki-laki, sedangkan kini surau-surau dalam rumah sudah menjadi hal yang sukar dijumpai. Kasus ini ia tarik dalam kehidupan masa kini yang mana ibadah menjadi hal yang dikesampingkan ketimbang bekerja. Sementara itu, persoalan terbitnya cerpen yang sempat menggegerkan ini bak benang kusut setelah muncul ketidakpuasaan sejumlah masyarakat yang menolak tafsir ‘kemalangan akan datang jika terlalu berlebihan dalam hal beribadah’. Sekelibat, hal ini membawa saya pada memori kisah Mahabharata yang menjadi menarik akibat timpangnya sanggit cerita yang membiarkan Pandawa sebagai simbol kebaikan masuk neraka, sebaliknya Kurawa menikmati damainya surga.
Lantas dengan ketimpangan tersebut mereka mencoba membaca ulang wacana sejauh mana iman dapat ditimbang. Debat kusir ini akan semakin menyenangkan apabila waktu yang disediakan untuk berdiskusi tidak dibatasi. Sayangnya, persoalan mengenai iman acap kali menjadi pelik sebab kita dibutakan oleh akal sehat yang terbolak-balik.
Comments
Post a Comment