Buruh Tubuh : Praktik Eksploitasi Dalam Kesenian Yang Terkuak

 

Dokumentasi oleh Jauhari

Hujan mengguyur langit Surakarta pada tanggal 20 Januari 2023, bertepatan dengan hari dimana pertunjukan karya Buruh Tubuh oleh Dani S Budiman dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dalam acara On Stage ke-13 yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan dan difasilitasi oleh Melati Suryodarmo. Tepat setelah hujan mereda, penonton mulai berdatangan, bercakap-cakap dan saling sapa sambil menunggu pementasan dimulai. Tak lama setelahnya, pintu Teater Arena mulai dibuka dan satu per satu penonton masuk ke dalam.

Karya ini dibuka dengan peristiwa dimana Dani terlihat duduk bersimpuh, membelakangi penonton seraya menundukkan kepalanya. Disusul dengan kedatangan seorang pria bernama Nut yang menggengam sebuah tali berwarna oranye sepanjang 7 meter. Ia mulai menghampiri Dani dan perlahan mengikat tangannya yang disilangkan di punggung dengan simpul-simpul yang rapih. Setelah selesai dengan ikatan-ikatannya, Nut beranjak pergi mengambil pecut dan beberapa kali melentingkan pecutannya. Sementara itu, Dani perlahan berdiri sembari melepaskan tali yang diikatkan di punggung dan pergelangan tangannya.

Sayup-sayup terdengar tembangan dari belakang panggung, “Wis awit kuna mengkuna, ebeg dadi lantaraning gusti. Senggakane melung-melung, lumantar beksan nira. Polah ira mubeng nglenter weh panglipur, ora mung gagahe rupa, Rama”. Rupanya tembangan tersebut dilantunkan oleh Arianto atau yang akrab disapa Dono. Ia berjalan pelan menuju pentas, menghampiri tiga buah kempul dan rebab yang telah tertata. Tembangan itu turut menghantarkan Dani meraih anyaman bambu berwujud kuda atau biasa disebut ebeg, kemudian menarikan beberapa rangkaian gerak ebegan khas wilayah Cilacap. Suasana yang sebelumnya kaku menjadi lebih cair setelah raut wajah Dani perlahan berubah. Ia yang sebelumnya menatap ebeg tersebut dengan pandangan sayu, mulai menarik garis bibirnya keatas membentuk senyum yang ringan. Rangkaian demi rangkaian gerak ebegan ia perlihatkan dengan detil. Suara kendhang dan kempul berpadu mengiringi gerak tubuhnya yang menari dengan jujur nan riang, tercermin dalam wujud ebeg-nya yang sederhana tanpa rambut palsu, pelana dan pewarna buatan.

Mandheg disit!” teriak Dani yang dalam terjemahan bahasa Indonesia artinya “berhenti dahulu”, seketika menghentikan alunan kempul dan kendhang. Alih-alih kedua pemusik mendengarkan permintaan Dani, mereka kembali memainkan musik bahkan dengan ritme yang semakin cepat. Ebegan pada malam itu selayaknya membentuk arena pacuan kuda yang mana kini bukan lagi Dani yang menggerakkan ebeg namun ebeg-lah yang mengendalikan tubuh Dani. Ia menungganggi ebeg, berlari dari satu titik ke titik yang lain kemudian membanting tubuhnya dan jatuh ke lantai. Benturan lantai dan tubuhnya terdengar keras dan seketika itu juga ebeg-nya ia lepas. Alunan musik yang meriah kini menjadi bisikan mantra yang berulang kali diucapkan. Tempo yang mungkin terdengar monoton itu memiliki daya sihir, menyihir Dani hingga melempar ebeg-nya keluar dari sorotan lampu.

Kini tidak ada lagi ebeg yang mengendalikan Dani, hanya ia dan dirinya sendirilah yang berkuasa atas tubuhnya. Namun rupanya, lepasnya ebeg dari genggaman tidak membuatnya semata-mata terbebas. Justru ia kelelahan atas gerak tubuh yang tidak sepenuhnya ia kendalikan lagi. Berulang kali ia melayang dan terjatuh dan beberapa aksinya berhasil membuat penonton menyeringai membayangkan rasa sakit di tubuhnya. Perlahan ia mulai bangkit dan berlari sambil terengah-engah. Di tengah lajunya yang tertatih-tatih, Nut mencekokinya dengan air degan dan segenggam kelopak bunga mawar. Pada waktu yang bersamaan, Dono berjalan sembari membawa kempul yang terbalik hingga menyerupai bejana besar yang dilapisi kain iket berwarna hitam. Ia menengadahkan ke beberapa penonton yang ada di barisan depan. Menariknya, tanpa ada instruksi dan aba-aba, secara serentak para penonton mulai merogoh saku dan mencoba mencari uang receh untuk diserahkan ke dalam kempul yang dibawa oleh Dono. Sementara itu, Nut dengan berapi-api melontarkan pecutannya yang seringkali hampir mengenai Dani.

Setelah berjalan melingkari pentas dan merasa kempulnya terisi penuh dengan uang recehan, Dono melanjutkan langkahnya hingga singgah di tengah pentas. Disusul dengan kedatangan Dani yang mencoba mengatur napasnya sembari menerima kain pemberian Dono lalu beranjak pergi. Sementara itu, Dono melanjutkan tembangannya sembari menabur recehan uang tersebut dengan pasrah. Peristiwa ini seakan-akan mengisyaratkan adanya ketimpangan terkait apa yang telah dikerjakan dan yang didapatkan oleh seorang penari ebeg. Suara pecut melengking berkali-kali dibunyikan melalui ayunan lengan Nut yang turut mengakhiri pertunjukan pada malam hari itu.

Seusai karya ini dipentaskan, kami bersama-sama membahas mengenai karya Buruh Tubuh secara mendalam didampingi oleh Halim HD sebagai moderator dan Wahyu Santoso Prabowo sebagai penanggap. Perbincangan pada malam itu dibuka oleh Halim HD yang menyatakan bahwa kata ‘buruh’ telah mengalami sejarah yang panjang. Sejak kapitalisme menjalar ke seluruh belahan dunia di abad 19, terbentuklah satu sistem yang mempengaruhi tatanan sosial, ekonomi hingga politik yang juga bersinggungan dengan kuasa atas tubuh. Oleh karenanya, pemilihan tema terkait tubuh dan buruh menjadi satu hal yang menarik baginya. Sementara itu, Wahyu Santoso Prabowo menanggapi bahwa kesadaran tubuh sebagai buruh ini cukup bias jika dibandingkan dengan zaman dimana Gendhon Humardani masih mengajar di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), dimana seluruh muridnya dilatih mati-matian untuk membentuk tubuh yang cerdas. Berkebalikan dengan pernyataan Dani, baginya praktik semacam itu dianggap sebagai salah satu cara untuk bereksplorasi. Tentu hal ini menjadi kasus yang sulit untuk dibaca dalam sekali waktu, karena pemahaman kita atas suatu peristiwa tentu akan terus berubah seiring berjalannya waktu.

Buruh Tubuh menjadi pertunjukan sekaligus persoalan yang belum selesai bagi Dani. Hal ini berkaitan dengan bagaimana penyikapan orang lain terhadap peristiwa trance atau mendem di dalam praktik kesenian ebeg yang dianggap sebagai sebuah keharusan atau syarat agar dapat disebut sebagai penari ebeg. Sementara itu, Dani mengaku bahwa selama mendalami praktik tersebut, ia belum pernah betul-betul merasakan mendem. Oleh karenanya, selama ini yang ia lakukan adalah meniru perilaku orang mendem dalam keadaan sadar. Mulai dari makan pecahan kaca, duri hingga ayam mentah dan hal ini sengaja dibungkam dengan dalih ‘melestarikan’ kesenian ebegan. Terdapat banyak hal yang terpaksa ia simpan demi keberlangsungan dan lestarinya praktik-praktik tersebut, yang mana hal ini erat kaitannya dengan eksploitasi. Bagi saya, Dani cukup berani untuk memperlihatkan peristiwa terkait dengan eksploitasi yang dialaminya di dalam praktik berkesenian.

Pertunjukan pada malam itu menjadi satu tampikan bagi saya, dimana terkadang sorotan lampu, riuh tepuk tangan serta amplop yang bahkan tidak diketahui berapa jumlah nominalnya menjadi satu kebanggaan tanpa pemaknaan yang kritis. Meskipun wacana dalam karya ini merupakan suatu kasus yang belum tuntas, namun saya kira karya ini merupakan pijakan awal kesadaran atas bagaimana sebaiknya kita memperlakukan sesama praktisi seni agar tercipta ekosistem kerja yang sehat, nyaman, tanpa ada pihak yang dirugikan.

Comments