Site Specific Sinekar : Menyelami Ritus Tubuh Kehidupan Sehari-hari Warga Desa Melikan, Gunung Kidul


Sebagai pengkarya, saya mencoba mempertanyakan ulang mengenai seberapa luas pandangan atas pengelolaan krisis yang lantas dijadikan alasan untuk bangkit dari keterpurukan melalui pengalaman pasca trauma. Pasca trauma yang saya alami juga beririsan dengan pasca trauma krisis alam dan air yang terjadi dan dialami oleh warga di Gunung Kidul khususnya di Desa Melikan. Oleh karenanya, saya coba uraikan resapan pengalaman pribadi atas pasca trauma kecelakaan lalu lintas yang juga berpantulan dengan pasca trauma krisis air yang dialami oleh warga Desa Melikan.
Karya ini mengadaptasi format participative site specific performance art yang sangat mengandalkan keleluasaan bentuk karya sebab bentuk karya disini mengikuti wacana yang dibangun. Secara konseptual, karya ini mengangkat arsip sejarah yang terpantik melalui arsip pribadi namun berkolerasi dengan arsip sejarah kolektif dan mengusung pentingnya melihat momen jeda sebagai ruang untuk menuangkan segala persoalan yang sulit dipecahkan dan perasaan yang sulit diekspresikan. Meski titik penggarapan karya ini banyak bertolak dari pengalaman pribadi, namun dari segi pengerjaan karya ini membutuhkan daya dukung eksternal mulai dari konsultan karya, supervisor, tim riset, narasumber, dan warga Desa Melikan.

Dengan bekal data yang didapatkan dari penelitian secara langsung di lapangan, saya dan tim riset diantaranya : Restha Marta Ontyka, Chisnar Bagas Pamungkas, Clayrine Faiza, Dani S Budiman, Fay Muthahari, Sinta Nuraini, Bulan Noverina, Darryl Simeon, Reno Abdurahman, Ilman Nafai, Yuninggar Renaningtyas menemukan adanya sejarah mengenai Gunung Kidul bahwasana dahulu kala wilayah tersebut merupakan dasar laut yang kini telah beralih menjadi kawasan bukit karang yang disebabkan oleh terjadinya fenomena alam. Selain itu, kami juga mendapati bahwa warga setempat khususnya di Desa Melikan masih melangsungkan ritual setiapKamis Pahingan yang kerap disebut Rasulan. Sementara itu, hingga hari ini warga di desa tersebut masih bergelut dengan kondisi alam yang menyebabkan kekeringan air bahkan hingga di awal musim penghujan ini. Data-data tersebut kemudian menjadi navigator narasi dalam karya Site Specific Sinekar menyoal sejarah, mitos, masalah dan laku ritus kehidupan sehari-hari warga di Desa Melikan.
Karya Site Specific Sinekar mengadaptasi bentuk performatif partisipatif yang melibatkan audiens sebagai responden dan menjadi bagian dari karya ini. Keputusan untuk mengadaptasi model atau jenis karya semacam ini muncul atas kesadaran bahwa arsip pribadi juga bersinggungan dengan arsip sejarah sosial. Untuk itu, kami membutuhkan perspektif orang lain untuk meretas jarak pandang pengkarya secara pribadi ke hadapan publik yang ditampilkan di beberapa titik. Diantaranya adalah Rumah Kepala Rukun Tetangga (RT), Griya Dahar Banglipuran, dan kawasan bukit karst Desa Melikan. Selayaknya kepingan sejarah, kami mengajak audiens untuk menyusuri dan menapaki satu per satu lokasi tersebut dengan menampilkan pertunjukan di setiap titiknya. Pertunjukan tersebut merupakan hasil dari residensi yang kami lakukan.

Bagian pertama pada karya ini cenderung berfokus pada reka ulang adegan dimana Lurah akan menceritakan kondisi alam di Desa Melikan secara performatif di kediaman Kepala Rukun Tetangga (RT). Meski penamaan bagian ini menggunakan istilah ‘reka ulang adegan’ namun dengan kesadaran artistik, kami memutuskan untuk memodifikasi alur cerita yang dibawakan oleh Lurah sejalan dengan wacana karya Site Specific Sinekar yang membicarakan soal ritus kehidupan sehari-hari warga Desa Melikan dalam menghadapi krisis alam.
Pada bagian selanjutnya, Lurah akan menghantarkan seluruh audiens dari kediaman Kepala RT menuju area Griya Dahar Banglipuran (di Seberang rumah Kepala RT). Jika di bagian pertama suasana dibangun secara realistis, maka di bagian kedua suasana akan mulai mengalami peralihan. Peralihan ini merujuk pada pilihan artistiknya. Dengan pendekatan partisipatif, pengkarya akan mengajak audiens untuk ikut makan sego gendong bersama di Banglipuran. Peristiwa ini merujuk pada aktivitas persiapan latihan menjelang perayaan Kamis Pahingan atau Rasulan yang biasa dilakukan oleh warga setempat.
Pada bagian terakhir, peralihan kembali terjadi yakni dengan bangunan suasana yang cenderung surealis. Pendukung karya sebagai pemeran pelaku ritus kehidupan sehari-hari berdiri berjalan beriringan menuju bukit di belakang Griya Dahar Banglipuran. Para pelaku ritus kehidupan sehari-hari yang membawa segenap peralatan seperti cangkul, clurit, jerigen berisikan air, karung yang berisikan pakan ternak dan lain sebagainya kemudian perlahan membentuk formasi kirab. Pada bagian ini, audiens dipersilahkan untuk memasuki barisan para pelaku ritus kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari peristiwa tersebut. Pertimbangan ini dikembalikan pada temuan-temuan yang dihasilkan dalam laboratorium Site Specific Sinekar.

Karya ini memang tidak memperlihatkan hasil dari balik layar alias hasil karya dan prosesnya seakan-akan saling berbanding terbalik. Akan tetapi, hal yang ingin saya sampaikan melalui karya ini adalah bagaimana proses kreatif dapat dirasakan sensasinya melalui pengalaman ketimbang dinikmati secara visual selama kurang lebih durasi satu jam.
Site Specific Sinekar yang telah dipresentasikan kepada publik memproyeksikan berbagai ragam bentuk karya yang luwes untuk diinterpretasi. Mulai dari site specific, site behavior, hingga performans, karya ini memberikan sudut pandang yang lebih luas atas karya penciptaan yang mengadaptasi dari kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari yang terkesan biasa-biasa saja namun mampu digeser sudut pandangnya menjadi sesuatu yang diluar dari kebiasaan.
Rentetan peristiwa yang terjadi dalam karya ini membuktikan bahwa sebuah penciptaan karya seni yang melibatkan warga tidak harus mengesampingkan ke-natural-annya, sebab hal yang natural merupakan kejujuran yang patut diapresiasi. Selain itu, sifat natural atau organik yang telah menubuh dalam kegiatan sehari-hari dan telah melebur dalam siklus waktu menjadi penting untuk dimaknai sebagai bagian dari budaya.
Comments
Post a Comment