Bias Tragedi Komedi Kesetaraan Gender dalam Karya Eksperimental ‘Runyam'

Dokumen oleh Wahid “Panglembara”

Anak muda sering digambarkan dengan energi membaranya dalam melakukan setiap hal, maka tidak jarang kita sering mendengar istilah yang muda yang berkarya. Seakan-akan anak mudalah yang memegang tombak semangat kreatifitas. Dorongan inilah yang membangkitkan semangat pencetus Tiga Slash Funda, sebuah clothing brand besutan Danang Isyawara. Tiga Slash Funda sendiri adalah clothing brand yang fokus pasarnya didasari oleh latar belakang Danang sebagai seorang penari yang juga menggeluti dunia desain grafis. Danang menyadari bahwa sebuah brand tanpa akar yang kuat akan kehilangan arahnya di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, ia memulai untuk mengarahkan akarnya ke titik yang menguatkan nama brand-nya dengan aktivasi branding yakni menggelar acara bertajuk Stay In Love : Showcase and Sharing sebagai pijakan awalnya. Danang menggandeng Crisnar Bagas Pamungkas, Kukuh Prayogo dan Dyah Ajeng Ulya Royyani dengan mendemonstrasikan karya mereka dalam bentuk pertunjukan eksperimental yang dipresentasikan di kediaman Kukuh pada tanggal 30 November 2022 yang lalu.

Karya Runyam menjadi salah satu bagian dari rangkaian pertunjukan dalam acara Stay In Love : Showcase and Sharing. Pertunjukan ini diawali dengan dibukanya pameran berupa kumpulan dokumentasi proses eksplorasi terbentuknya Tiga Slash Funda, mulai dari journal mapping, pameran kaos produk Tiga Slash Funda, foto proses hingga foto hasil kolaborasi pemikiran Danang dan Kukuh dalam bentuk foto perpaduan beskap Jawa dengan ornamen sablon dan bordiran yang nyentrik. Sebelum karya Runyam dipresentasikan, kami bersama-sama menyaksikan film dokumenter bertajuk Sang Perkasa : Rajamala yang disutradarai oleh Wahid “Panglembara” di ruang utama rumah Kukuh. Film dokumenter ini menceritakan tentang sejarah keberadaan kapal Kyai Rajamala yang diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai kapal perkasa yang dahulu mengarungi Sungai Bengawan Solo dan sempat berlabuh di Kampung Sewu. Tidak hanya itu, melalui film ini Wahid juga mengajak kita untuk merayakan peringatan ke 211 tahun kapal Kyai Rajamala. Bagi saya yang menarik dalam film dokumenter ini terletak pada bagaimana Wahid menempatkan sudut padang filmnya bukan hanya dengan pendekatan sejarah yang konkrit namun juga dengan pendekatan wayang yang interpretatif. Hal ini mengingatkan saya pada pidato Garin Nugroho saat pengukuhan gelarnya di Institut Seni Indonesia Surakarta, ia mengatakan bahwa salah satu film garapannya adalah perpanjangan dari pertunjukan wayang. Siapa sangka, ternyata kearifan lokal seperti pewayangan merupakan akar dari praktik-praktik yang diterapkan dalam dunia film yang mana sekarang menjadi media alternatif bagi praktisi seni di berbagai lini.


Tepat setelah film berakhir, kami melangsungkan sesi diskusi. Meski dengan jumlah penonton yang relatif sedikit, namun proses diskusi tetap berjalan interaktif. Sesi diskusi ini banyak mengurai latar belakang ide Wahid dalam penggarapan karya filmnya dan ketertarikannya atas pemilihan tokoh Rajamala sebagai ikon dalam filmnya. Setelah sesi diskusi berakhir, kami disilakan untuk rehat selama 20 menit. Beberapa dari kami berkeliling untuk melihat pameran, sebagian kembali mendiskusikan tentang film dokumenter yang baru saja kami saksikan, sebagian yang lain menyeruput kopi yang dihidangkan di teras. Tidak terasa 20 menit berlalu dengan cepat, tiba-tiba seorang laki-laki berlari kearah ruang tamu dan mengajak kami masuk ke ruang utama untuk menyaksikan pertunjukan Runyam. Laki-laki itu bernama Dwi Prasetyo atau akrab disapa Pras, seorang penari yang juga aktif di dunia seni peran serta mahir memainkan beberapa alat musik. Baru kali ini saya berkesempatan untuk menyambut gelak tawa dari penonton yang terhibur oleh kepiawaian Pras membawakan stand up comedy.

Terlihat seorang perempuan dengan pakaian berukuran besar berwarna putih terlentang dan dikelilingi makanan ringan di atas kotak yang wujudnya mirip seperti kotak kayon atau kotak untuk menyimpan wayang. Perempuan itu adalah Dyah Ajeng Ulya Royyani atau dikenal sebagai Ajeng, salah satu kontributor Tiga Slash Funda sekaligus penampil malam hari itu. Ia melihat ke langit-langit plafon dengan rambut panjang yang terurai dan menggenggam sekuntum bunga sedap malam. Kami diperbolehkan untuk mengambil dan makan makanan ringan tersebut secara cuma-cuma sedangkan Pras tetap melanjutkan stand up comedy-nya. Selama Pras melontarkan leluconnya, Ajeng hanya terdiam dengan tatapannya yang kosong namun tajam seperti hendak mengatakan suatu hal kepada seseorang namun kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya.

Suasana pertunjukan terasa begitu cair, sewaktu-waktu penonton ikut membalas lelucon yang dilempar oleh Pras. Dalam performanya, Ia membahas hal-hal yang berkaitan tentang cara pandang laki-laki terhadap perempuan. Peristiwa yang digambarkan oleh Pras menunjukan bahwa perempuan seringkali dikenal sebagai makhluk yang paling menyebalkan hingga menunjukan sisi-sisi rentannya seorang perempuan. Pada momen tersebut, Pras tidak segan-segan mengutarakan kalimat-kalimat yang cenderung sensitif. Ia menunjukan realita masa kini yang mana kekerasan seksual diutarakan dengan kalimat, seolah menjadi bahan candaan yang wajar untuk disampaikan kepada siapapun bahkan kepada orang yang tidak dikenal sekalipun. Bagi saya, menertawakan lelucon Pras membuat saya merasa bersalah atas keadaan perempuan baik di masa lampau maupun di masa kini yang mungkin selama ini terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. Seketika Pras berteriak ke arah Ajeng “Pelacur!” kami sontak terdiam, tidak mengira bahwa suasana menjadi mencekam dalam sekejap. Sesaat setelah Pras mengucapkan kata tersebut, ia bergegas pergi meninggalkan ruang tamu.

Perlahan Ajeng memulai gerakan kecil, halus, lalu mengangkat bunga yang sedang ia genggam. Dihentakkanlah bunga itu dan menimbulkan suara keras yang lagi-lagi mengagetkan kami. Ia mulai berdiri, menggerakkan dan memperlihatkan lekuk tubuhnya kemudian disusul dengan datangnya 4 laki-laki yang berjalan sambil membaca buku dengan lantang secara bergantian. Keempat laki-laki tersebut membaca sajak, intonasi dan nada yang berbeda-beda. Pembacaan mereka membentuk dinamika harmoni yang terdengar seperti musik acapella. Lantunan sajak yang berubah menjadi musik acapella tersebut seketika berubah menjadi candaan. Mereka tertawa terbahak-bahak sembari melanjutkan membaca buku yang sedang mereka pegang disusul dengan nyanyian Ajeng yang seketika menyerap daya fokus penonton. Syair yang dinyanyikan secara berulang oleh Ajeng turut menutup pergelaran karya pada malam itu.

Salah seorang penonton bertanya kepada Chrisnar Bagas Pamungkas yang sapaan akrabnya adalah Pam. Penonton itu bertanya perihal jenis pertunjukan apa yang Pam presentasikan. Pam menegaskan bahwa karyanya merupakan hasil dari kerja laboratoriumnya bersama seluruh pendukung karya. Ia mengaku belum tahu jenis apa karyanya sendiri, sehingga ia menyebutnya sebagai karya eksperimental. Sedangkan bagi saya, karya ini merupakan peristiwa yang bisa dinikmati dari sudut pandang bidang seni apapun. Di dalam karyanya kita bisa melihat tari, teater, musik bahkan instalasi. Hal ini mengingatkan saya pada pernyataan Halim HD dalam suatu forum, bahwa ketimbang sibuk mengkategorikan jenis karya apa yang sedang kita nikmati, mengapa tidak kita hilangkan sejenak kata seni itu sendiri. Nyatanya untuk saat ini setiap bidang seni, sistem kerjanya sangat kolektif dan tidak bisa lepas dari bidang satu dengan yang lain.

Kejutan demi kejutan dalam peristiwa malam itu menggetarkan hati saya, membuat saya berpikir seribu kali lipat. Sebetulnya realitas yang sedang kita alami saat ini apakah hal yang biasa saja atau hal yang perlu diperbaiki. Apabila perlu diperbaiki, lantas bagaimana memulai langkahnya. Karya Runyam bukan sekedar karya eksperimental yang hanya disaksikan oleh puluhan penonton, karya ini adalah penanda bahwa saat ini kita punya tugas untuk menjadi lebih kritis terhadap kekerasan gender baik bagi perempuan maupun laki-laki. Memang tidak mudah untuk menggerakkan hati melalui karya, tetapi setidaknya Pam telah berani melangkah ke jalan yang jarang dilalui oleh kebanyakan orang.

Comments